 |
| Sumber : Instagram |
Gambar diatas saya dapat dari Instagram seseorang (bukan A yang upload). Apa maksud saya upload gambar itu disini? Saya akan jelaskan setelah pesan-pesan berikut ini.. :D
Sebelumnya saya pernah post di blog lain masalah cerita cinta saya, dari awal saya sebelum kenal sama A, setelah kenal, sampai akhirnya sekarang jadian dengan dengan A yang lain (Ananda Yulia Kurnia Sari, red). Mungkin kalau dia tahu saya cerita disini bisa pecah kongsi ini. :D (maaf ya nduk :P )
Back to Topic. Saya akan review sedikit tentang hubungan saya dengan A itu. Jadi ceritanya berawal saat saya masih kuliah, saya dan A sama-sama menempuh jurusan yang sama di kampus. Kebetulan juga sama-sama menjadi asisten praktikum di lab. Saya waktu itu pernah menjabat sebagai Koordinatornya, sedangkan A menjadi asisten saya (ciee asisten cantik :D ). Banyak yang bilang saya cocok dengan A, terutama kakak tingkat saya yang sudah seperti kakak saya sendiri. Sebut saja N (maaf kalau ada yang namanya sama).
Singkat cerita nih, saya PDKTin A, tiap hari berusaha antar jemput A. Ketemu di jalan saya ajak bareng. Bahagia sih iya, tapi lama-lama saya merasa harus kasih kepastian nih. Masak iya jalan bareng hampir tiap hari tapi masih gak ada status. Akhirnya saya pengen coba nembak dia. Memang sih anaknya alim. Sebagai cowok kadang saya minder, soalnya saya tipe orang yang suka
petakilan sendiri sih (
gaje lah pokoknya). Apalagi A ini dikenal karena dia itu aktif, dan mantan pacarnya tuh sholeh banget pokoknya. Sedangkan saya, sholat di masjid aja jarang (dulu waktu kuliah, sekarang sih Jama'ah aktif Yasin Tahlil bareng bapak-bapak :D ).
Sebelum nembak A, saya sholat malam dan berdoa agar di dekatkan dengan dia dan mendapatkan jalan yang terbaik dengan A. Saya juga perbaiki sikap saya, yang awalnya banyak omong udah mulai
ngerem. Yang awalnya dulu jarang sholat di masjid, mulai aktif sholat jama'ah di masjid (sekali lagi ini kejadian waktu saya masih kuliah). Nah tiba saat yang mendebarkan. Saat dimana nyali saya diuji untuk memberanikan diri ngomong ke A tentang perasaan saya (padahal udah pernah pacaran sih). Namun nyali saya ciut. Tak berkutik di depan A saat itu. Dan yang saya lakukan akhirnya setelah
nganter dia pulang ke kost, saya sms dia malemnya. Waktu itu kejadian setelah dari Jogja (mungkin lain waktu saya cerita disini soal kejadian di jogja itu). Saya terus terang soal perasaan saya ke A, dan kakak saya tadi mendukung saya untuk terus maju.
Tapi akhir buruk yang saya dapatkan. Setelah saya nyatakan perasaan saya, dia malah sama sekali tidak pernah
nyapa saya. Bahkan saya ajak bareng ke kampus pas di jalan, dianya udah gak mau. Saya tentunya bertanya dalam hati, apakah saya salah? Ketika di lab pun saya tidak disapa.
Mungkin ini karma saya, mendekati Allah hanya untuk cinta kepada manusia. Dan Allah menyadarkan saya dengan cara yang indah. Saya sadar perubahan saya menjadi manusia yang kembali ke jalan Allah ini salah jika niat saya bukan karena saya ingin mendekatkan diri kepada Allah. Saya kecewa tidak mendapatkan A sebagai pendamping hidup saya nanti. Allah Maha Adil dan Maha Penyayang. Saya berdoa kepada Allah agar dapat segera melupakan A.
Lama sekali rasanya waktu itu saya bisa melupakan A. Ada hampir 1 thn saya tidak bertegur sapa dengan A (bukan saya gak mau, tapi saya malu). Padahal banyak temen yang mendukung saya dengan A, tapi saya merasa tidak pantas bersanding dengannya. Saya bukan orang baik-baik. Saya sadar kalau saya hanya seorang manusia yang masih sering berbuat dosa.
Setelah lama saya berusaha mendekatkan diri kepada Allah, berusaha memantaskan diri, akhirnya saya berdoa semoga saya mendapatkan pengganti yang lebih baik dan lebih mengerti daripada A.
Dan inilah saya saat ini, bersama seseorang bernama A juga (Ananda Yulia Kurnia Sari, red) yang alhamdulillah lebih mengerti, lebih baik, lebih cerdas, dan semoga bisa menjadi istri saya yang sholehah nantinya (nunggu dia lulus dulu soalnya :D ). Aamiin.
Sedikit mengulas gambar, kalau saya sih bakalan malu memperkenalkan diri seperti itu. Emang sih bagi sebagian orang udah bagus, apalagi yang cowok-cowok, pasti bakalan langsung bilang kalo dia calon istri yang sholehah. Soalnya dengan lantang A menyebutkan kalau pekerjaan utamanya adalah Sholat dan mengaji. Sedangkan pekerjaan yang sekarang di lakukan sebagai Sampingan.
Tapi kenapa saya bilang kalau saya pasti bakalan malu? Pertama, karena pekerjaan kita yang utama sebagai manusia bukan hanya
sholat dan mengaji, tapi
Beribadah dan Mengabdi kepada Allah SWT. Karena ibadah itu bukan hanya sholat dan mengaji, tapi puasa, zakat, haji, sedekah, dll. Banyak deh dan gak bakal cukup kalau dijabarkan disini. Yah semoga kalau mbak A membaca bisa sadar dan merubah pekerjaannya ( loh-loh :D ).
Yang kedua, kenapa saya bakalan malu? Karena saya membawa kata atas ijin Allah tanpa tahu bagaimana dan saat apa saya menggunakan. Setelah tadi pertama masalah pekerjaan, ditambah embel-embel atas ijin Allah supaya terlihat islami. Padahal kalau depan kurang tepat, belakangnya pasti ikutan jadi tidak indah lagi.
Yang ketiga, niatnya. Saya gak tau mbak A itu niatnya apa posting itu. Apa sekedar memperkenalkan diri atau riya' masalah pekerjaannya yang "islami" (saya bukan dukun yang tahu isi hati seseorang). Jadi saya tidak akan memberikan ulasan pada bagian ini.
Itu tadi sedikit ulasan dari saya. Terlepas dari saya menjelekkan atau tidak, saya minta maaf. Tidak ada maksud untuk menjelekkan atau apa (jika mbak A atau yang mengetahui membaca). Ini sebagai bentuk penyadaran terhadap diri saya sendiri, maupun kepada pembaca sekalian. Semoga kita mendapat berkah dari Allah SWT melalui blog saya ini. :)
Oke, sampai disini dulu Flashback kali ini, nantinya kalau saya sempat saya usahakan bersambung dengan flashback saya yang lain (jika teringat akan sesuatu hal). Ini juga kebetulan saja karena
nemu gambar di Instagram tentang A itu. Mohon maaf juga kalau penggunaan bahasa masih amburadul, maklum penulis pemula. Doakan saja semoga teknik penulisan saya semakin bagus dan bisa istiqomah menjadi penulis. :D